Berkeliling kota Solo menggunakan sepeda motor seharian, memang sedikit melelahkan. Bukan karena jarak! Meskipun Jln.Slamet Riyadi memang pernah dinobatkan sebagai jalan dalam kota terpanjang di Asia Tenggara! Tp karena kondisi jalanan yg bikin stres. Polusi kendaraan, sopir bus yang ugal2an. Tak banyak perbedaan dengan Jogja memang. Yach, setipe-lah.. Artefak sejarah peninggalan jaman kolonial memang masih ada. Pun tak bisa menyaingi kemegahan bangunan modern.
Konon,ada peraturan dari Pemkot masa pemerintahan Alm.Hartomo yang mengharuskan pemohon IMB untuk menaati aturan yang dibuat “tim jati diri bangunan solo”. Alhasil, gedung BCA di Jln.Slamet Riyadi yang dulu atapnya bisa digunakan untuk landasan pesawat terbang,diperintahkan untuk dibongkar menjadi atap joglo yang megah.
Tapi semegah apapun bangunan2 itu, melihat peninggalan sejarah Solo masa silam, membuat angan terbang ke beberapa puluh atau bahkan ratusan tahun yg lalu. Keraton Kasunana Solo, Pura Mangkunegaran, Pasar Klewer dan lain sebagainya. Di sentra2 batik Lawean dan Kauman pun masih terdapat rumah jadul bertuliskan angka pembangunannya, yaitu sekitar tahun 1800an.
Solo memang kembarannya Jogja.. (Bukan kesimpulan yang aneh kan?! Hehe..)
Udah lama ga nonton film, akhirnya nyewa VCD jg. Yach… walaupun bkn film baru, tp gpp lah. Blm nonton ini. Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang guru dlm mengajar. Mgkn terlihat klise kalo mendengar kalimat it. Tp yg bikin ga klise adalah si guru ini mengajar di sebuah kelas yang isinya rata2 adalah anggota geng. Kisah nyata. Memang menarik kalo liat film kisah nyata. Really inspiring! Kayak Pursuit of Happiness yang menceritakan bgmn seorang Criss Gardner yang seorang homeless, menjadi milyarder.